Married Life

 06 Desember 2020...

Yg hidup di tahun 2020, mgkn 9/10 bakal mengeluh how worst is 2020.

Kalo di vote, "Is 2020 break you down or cheer you up?" Pasti break you down menang telak , lol.

Covid-19 attack at the end of december, dan selama 2020, orang-orang menghabiskan waktu di rumah saja. Banyak karyawan/wati di rumahkan. Banyak usaha yang bangkrut, ada jg yg bertahan. Pokoknya, semua tidak seperti biasanya.

Anak2 belajar via online dari rumah. And till december 2020, uda 9bln anak2 belajar dari rumah. Semua terasa berat. Tapi tanpa di sadari , 10 bulan sudah kita hidup berdampingan dengan covid-19.

Untuk aku? Ini tahun terburuk dalam hidupku. Despite of covid-19, masalah-masalah lain menumpuk di tahun 2020 ini. Especially perkelahianku dengan suamiku. Tahun ini yang terburuk.

Semua berawal saat aku dan bayi 10bulan ku positif covid-19. Setelah hasil swab test keluar, aku dan bayi 10 bulanku karantina mandiri di rumah. Anak pertamaku di titipkan di rumah neneknya. Setiap hari, tanpa ada anak pertamaku di rumah, 2 minggu karantina itu , terasa sangat lama. 

Hari-hari, aku merindukan anak pertamaku. Dia permata hatiku, setiap hari mendengar suara tawa nya, membuat duniaku terasa sangat indah. 

Dan aku, merasa seperti on the bottom of my life. Banyak ketakutan yang aku pikirkan. Aku ingin segera bertemu anakku. Saat mendengar anakku bertanya , dimana mami, hatiku rasanya hancur sekali. Aku berpikir, dia pasti kangen, tapi dia tidak mengerti, perasaan itu yang namanya kangen.

Hingga malam itu, aku, suamiku & bayiku yg 10 bulan, keluar untuk membeli vitamin. Di jalan, karena rewel, suamiku memberikan hapenya ke dedek. Aku buka hape nya, berencana mau buka youtube. Ternyata tampilan utamanya Whatsapp. Dan ada chat suamiku dengan adik perempuannya yang tinggal dengan kami. 

Suamiku bertanya kabar anak bayiku ke adik perempuannya. Kemudia memaki aku di Whatsapp, katanya aku tidak ada otak, karena aku tidak menjawab pertanyaannya. Kemudian aku baca kelanjutan chat nya, adik ipar ku melaporkan segala kondisi anakku ke suamiku. 

Hatiku hancur. Menikah 7Tahun, ini pertama x nya aku tidak percaya lagi dengan suamiku. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu tentang aku, yang tidak lain adalah istrinya sendiri. 

Aku tidak mau menjawab pertanyaannya? Apakah dia pernah berpikir kenapa?

Dia menanyakan kabar anakku yg positif covid-19, bagaimana dengan aku? Aku jg positif covid-19 dan harus menjaga seorang bayi. 

Kenapa aku tidak mau menjawab saat dia bertanya? Karena pada saat aku bertanya, apakah bisa meminta ibu nya tinggal dengan kami, yang dia lakukan justru membentakku. Aku saat itu sudah stress karena positif covid, tapi dia justru membentakku. 

Saat kami menunggu hasil swab orang2 rumah, kami harus menginap di hotel, tapi sedikit pun dia tidak memandang ataupun bertanya "apakah kamu baik2 aja?"

Bahkan malam pertama aku isolasi mandiri di hotel, dia tidak di dalam kamar. Keluar hingga tengah malam, tanpa menanyakan kabarku, atau kebutuhanku. 

Setelah membaca pesan Whatsapp nya, aku menangis dan berkata "aku kecapekan, kamu lihat sendiri bayi kita rewel seperti ini, dan tidak ada yg bs membantu aku"

Suamiku langsung ngamuk, menumbuk stir mobil berkali2 dan berkata "Kamu pikir hanya kamu yang punya perasaan? Jangan pikirkan dirimu saja. Berkali2 aku tanya, kamu tidak mau jawab"

Aku juga terbawa emosi & aku berteriak, "Kenapa aku gak jawab, apa pernah kamu pikirkan? Saat di hotel, apa kamu ada bertanya gimana kabar ku? Saat aku ngomong baik2, kamu malah membentakku, saat isolasi mandiri, apa ada bertanya kabarku? Kamu bertanya kabar anak kita, bagaimana dengan aku?"

Adu mulut pun terjadi. Suamiku menumbuk stir mobil berkali2. Aku berteriak keras. Bayiku menangis, seperti mengerti apa yang terjadi. Hatiku hancur, seperti tidak akan bisa kembali semula lagi. Saat mendengar bayiku menangis, hatiku hancur. Aku bukan ibu yang baik. Aku membuatnya takut. Aku tidak melindunginya, hingga dia terkena covid & menangis ketakutan. 

Sampai di rumah, aku menangis. Air mata itu tidak bisa berhenti. Sambil menggendong bayiku, air mataku tidak berhenti mengalis. Aku menggendong bayiku, melihat keluar jendela. Hari sudah malam. Jalanan gelap. Bahkan jika aku bersedih, aku tidak ada tempat untuk melarikan diri. Aku terjebak di sini. 

Aku ingin pulang ke rumah mamaku yang 2jam dari sini. Tapi aku terlalu gengsi untuk mengatakan ke mamaku, bahwa rumah tanggaku bermasalah. Aku ingin terlihat bahagia. Aku tidak ingin terlihat menyedihkan. 

Suamiku masuk ke kamar, ingin berbicara denganku baik2. Aku menghindarinya. Hatiku masih sakit. Apapun omongannya, tidak akan menyembuhkan luka hati ini. Aku keluar dari kamar. Turun ke bawah. Dia mengejarku ke bawah. Berbicara denganku tanpa berteriak, berusaha menjelaskan. Dan aku membantah semua penjelasannya, dia terdiam. Kemudian aku bertanya "apa masih ada yang mau kamu bicarakan?" 

Dia menjawab tidak ada, dan aku naik ke atas. Berdiri di depan jendela sambil menggendong bayiku. Air mataku masih mengalir deras. Tidak berhenti. Hati yang hancur ini, tidak tahu bagaimana merangkainya kembali. 

Suamiku masuk ke kamar, membawa air putih & ginseng. Meminta maaf padaku, memeluk aku, dan berkata tidak akan seperti ini lagi. Dia berkata , aku sangat pucat. Aku menangis di pelukannya. Pelukan yang dulu terasa hangat. Pelukan yang dulu menenangkan. Ntah kenapa , berubah menjadi pelukan yang terasa menyedihkan. 

Sosok yang dulu membuatku bahagia. Sosok yang aku mimpi2 kan. Sosok yang aku banggakan di depan orang tuaku, ntah sejak kapan, menjadi orang yang paling menyakitiku. 

Dulu, aku takut tidak memiliki pasangan hidup. Dan aku berdoa, semoga aku di pertemukan dengan pasangan hidupku. Kemudian, aku di pertemukan dengannya. Tuhan menjawab doaku. 

Inilah yang aku minta dari Tuhan. Seharusnya aku tidak boleh cengeng. Aku harus kuat. Kedua anakku, masih butuh kami sebagai orang tuanya. Bagaimana jika mereka tunbuh, tanpa kasih sayang orang tua? 

Aku memilih, tetap bertahan. Demi anakku, demi keluargaku, dan demi aku sendiri. Seiring berjalannya waktu, luka ini tidak akan perih lagi, walaupun masih membekas. 

Komentar

  1. Harrah's Hotel and Casino - Mapyro
    Harrah's Hotel 안양 출장마사지 and Casino is situated at 777 Harrah's Blvd, North 속초 출장마사지 Las Vegas. It is part of the Caesars Travel 강원도 출장샵 Index and it has 제천 출장샵 an average rating of 4.8 과천 출장샵 out of 5.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pityriasis Rosea

First (Mao bahas Pityriasis Rosea, Malah ngacoo) Hehe